Exhibition “EXCURSION” di GALERI NASIONAL – The Great Journey Perupa Nasional

303
The Verge of Collapse, karya kolaborasi Fitrajaya Nusananta bersama Sohieb Toyaroja, courtesy; artworld

Kita hidup bukan di dunia yang murni purba, tetapi di dunia yang dikenal dan telah diubah, dunia di mana segala sesuatu telah, seolah-olah, diberi “sudut manusia”, sebuah dunia yang meresap dengan sikap kita terhadapnya, kebutuhan kita , ide, tujuan, cita-cita, kegembiraan dan penderitaan, sebuah dunia yang merupakan bagian dari pusaran keberadaan kita. Jika kita harus menyingkirkan “faktor manusia” ini dari dunia, yang terkadang tak terekspresikan, hubungannya yang sangat intim dengan manusia, kita harus dihadapkan dengan padang pasir kelabu tak berujung, di mana semuanya acuh tak acuh terhadap yang lainnya.

Pembukaan pameran ” Excursion ” oleh Kepala Galeri Nasional Indonesia, Bpk. Pustanto, courtesy; artworld
The Verge of Collapse, gambaran tentang ambang kehancuran digambarkan Sohieb dengan aneka rupa tokoh pewayangan punakawan dan Togog yang berwajah kebingungan. Sementara itu, di sisi kiri Fitrajaya melukiskan visual keruwetan dengan formasi kepala-kepala manusia, tangan, dan garis-garis tak beraturan. karya kolaborasi Fitrajaya Nusananta dengan Sohieb Toyaroja, courtesy; artworld

Fitrajaya Nusananta didepan karya kolaborasinya bersama Sohieb Toyaroja dan Ika Pratiwi binti Hendra [ art lover ], courtesy; artworld
Fitrajaya Nusananta bersama Ibu Melanie Setiawan [ art lover ] didepan karya kolaborasinya The Verge of Collapse bersama Sohieb Toyaroja, courtesy; artworld
Alam, yang dianggap terpisah dari manusia, bagi manusia hanyalah biasa saja, sebuah abstraksi kosong yang ada di dunia bayangan dari pemikiran manusiawi. Seluruh rentang hubungan kita yang tak terbatas dengan dunia berasal dari jumlah total interaksi kita dengannya. Kita dapat mempertimbangkan lingkungan kita secara rasional melalui prisma sejarah raksasa sains, filsafat dan seni, yang mampu mengekspresikan kehidupan sebagai gelombang kontradiksi yang muncul, berkembang, diselesaikan dan dinegasikan untuk menghasilkan kontradiksi baru.

Anomali,semesta dn industri memuncullkan suatu keganjilan, keanehan atau penyimpangan dari keadaan biasa/normal yang berbeda dari kondisi umum dalam suatu lingkungan. mengandung dua dimensi, yaitu dimensi fisik dan dimensi perilaku. Dari dimensi fisik digambarkan sebagai suatu penyimpangan satu bagian atau bahkan tubuh manusia secara keseluruhan banyak diadaptasi dari ilmu sosiologi, psikologi, dan ekonomi. karya Hendriques David, courtesy; artworld

Diungkap kurator pameran Frigidanto Agung, excursion, merupakan padanan kata journey, kata yang dipaparkan menjadi perjalanan, tetapi dalam excursion kata perjalanan menjadi bertambah dalam pengertiannya. Juga mempunyai arti yang spesifik dalam setiap bidang, termasuk bidang seni. Excursion merupakan perjalanan hidup bidang seni seseorang, atau journey seniman yang tertuju pada artistik.

The BLUES of BOROBUDUR, karya Syis Paindow, Jeritan Hati, Kekhawatiran melihat berapa banyak patung Budha di Borobudur yang rusak secara alami, ada juga banyak dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab yang berani mencuri patung Budha, lukisan ini mengangkat beberapa kepala Buddha yang telah hilang dan entah bagaimana arca-arca ini sudah tersebar di beberapa negara lain. Beberapa ada di balai lelang, museum dan Gallery,courtesy; artworld
ARJUNA Looking for Love, karya Syis Paindow inspirasi dari Legenda Nusantara, dengan membenturkan atau menggabungkan Zaman dulu dengan issue masa sekarang yang serba modern. Karya ini seri Pengembaraan Sang Arjuna Mencari Cinta dengan mawar merahnya, selain mawar merah, ia membawa Sepatu merk dunia Cristian Louboutin, dan handbag merk Hermes dengan harga fantastis, terlihat nakal dan menggoda. “Arjuna looking for love” dua karya masih teriinspirasi perjalanan sang Arjuna yang mencari cinta courtesy; artworld
The Blues of Borobudur, karya Syis paindow, courtesy; artworld
The Blues of Borobudur, karya Syis paindow, courtesy; artworld

Syis Paindow bersama Ika Pratiwi binti Hendra [ art lover ] didepan karyanya, courtesy; artworld
Menurut Agung, Pameran ”EXCURSION” mengusung tiga bagian yang dapat dijadikan wacana untuk mengembangkan sudut pandang. Pertama, misi ragawi, diwujudkan dalam rangkaian seni instalasi. Misi ragawi lebih memperlihatkan wujud tubuh dalam memberi arah nyata imajinasi, perwujudan tubuh dalam boneka merupakan representasi, menjelaskan sisi imajiner seniman dalam bekerja mengisi ruang dialog. Kedua, menjiwai raga, lebih menekankan bentuk yang sudah ada atau terlukis pada rentang waktu terdahulu, atau proses seniman terdahulu dan memberi arti baru pada masa kini. Ketiga, jiwa (dalam) raga, proses interpretasi bagaimana melihat jiwa yang ada dalam raga, lalu dituangkan di atas kanvas. Melalui ketiga bagian tersebut, karya seni dalam pameran ini dapat menunjukkan bagaimana raga digunakan untuk menjembatani subjektivitas sehari-hari dengan permasalahan artistik karya seni yang dihadapi dengan lebih jernih dan fundamental yang jelas.

 

The Gitar, karya Ponk-q Hary Purnomo, courtesy; artworld
karya Ponk-q Hary Purnomo
Ponk-q Hary Purnomo, courtesy; artworld
Suasana pengunjung pameran ” Excursion ” di Galeri Nasional, Indonesia, courtesy; artworld

Ibu Melanie Setiawan [ art lover ] bersama Ponk-q Hary Purnomo, courtesy; artworld
Diungkap kurator pameran Frigidanto Agung, excursion, merupakan padanan kata journey, kata yang dipaparkan menjadi perjalanan, perjalanan manusia dari zaman ke zaman. Yang dipengaruhi dengan budaya satu tempat ke tempat yang lain. Bagaimana manusia beradaptasi, orientasi, mencipta dan berkreasi dalam berkesenian. Tetapi dalam excursion kata perjalanan menjadi bertambah dalam pengertiannya. Juga mempunyai arti yang spesifik dalam setiap bidang, termasuk bidang seni. Excursion merupakan perjalanan hidup bidang seni seseorang, atau journey seniman yang tertuju pada artistik.

Ghany Leo bersama Anela Kaylea Bondjol didepan karyanya, courtesy; artworld
Ghany Leo bersama Ibu Melanie Setiawan [ art lover ] di depan karyanya, courtesy; artworld
Ghany Leo bersama Anela Kaylea Bondjol dan keluarga didepan karyanya, courtesy; artworld

Dalam kaitan konsep excursion pada pameran ini, maka perjalanan hidup manusia yang berkesenian tersebut tertuju kepada 19 seniman pada pameran ini, di antaranya Ponk-Q Hary Purnomo, Tomy Faisal Alim, Deddy PAW, Ghanyleo, I Dewa Made Mustika, Syis Paindow, juga beberapa seniman yang berkolaborasi antara lain Sri Hardana x Rengga Satria x Jason Ranti, Agustan x Kana Fuddy Prakoso, Fitrajaya Nusananta x Sohieb Toyaroja, Jono Sugiartono x Krismarliyanti, RB Ali x Yayat Lesmana, serta Hendrikus David Arie x Teguh Hadiyanto. Para seniman tersebut mengemas berbagai perjalanan berkesenian mereka ke dalam karya-karya visual berupa lukisan, patung, dan instalasi yang masing-masing memiliki keunikan serta ciri khas tersendiri.

RB Ali bersama Merwan Yusuf [ kurator ] didepan karyanya, courtesy; artworld
RB Ali bersama Benny Oentoro didepan karyanya, courtesy; artworld
RB Ali bersama Mas Wit didepan karyanya, courtesy; artworld
RB Ali bersama Heriawan Siauw didepan karyanya, courtesy; artworld

Hidup sedemikian terstruktur sehingga bagi manusia untuk sepenuhnya sadar akan hal itu ia membutuhkan semua bentuk aktivitas intelektual ini yang di dapat dari panjangnya perjalanan menjadikan pengalaman intelektual bagi para seniman, mereka dalam menciptakan karya seni saling melengkapi dan membangun persepsi integral tentang dunia dan orientasi serbaguna di dalamnya.

Beautiful Mess, karya kolaborasi Jono Sugiartono bersama Kris Donaldson, courtesy; artworld
Karya kolaborasi Jono Sugiartono bersama Kris Donaldson” Beautiful Mess”, courtesy; artworld
Instalasi berjudul ”Puzzle 2020” karya Sri Hardana, courtesy; artworld
Pengunjung didepan karya Sohieb Toyaroja, courtesy; artworld
Sohieb Toyaroja bersama art lover didepan karya kolaborasinya dengan Fitrajaya Nusananta, courtesy; artworld
Karya Kana Fuddy Prakoso, courtesy; artworld
Karya kolaborasi Hendriques David bersama Teguh Hadiyanto juga mencoba melakukan kerja seni bersama dalam karya ”Story of Wood” berupa lukisan dan ”drawing” di atas medium talenan kayu dan bulatan-bulatan kayu kecil, courtesy; artworld
Deddy PAW bersama Ibu Melanie Setiawan didepan karyanya, courtesy; artworld
Deddy PAW bersama seniman peserta didepan karyanya, courtesy; artworld

Banyak biografi ilmuwan dan filsuf menunjukkan bahwa para pemikir besar, terlepas dari dedikasi total mereka terhadap penelitian, sangat tertarik pada seni dan mereka sendiri menulis puisi dan novel, melukis ataupun menggambar, memainkan alat musik dan membuat patung. Bagaimana Einstein hidup, misalnya? Dia berpikir, menulis, dan juga memainkan biola, dari mana dia jarang berpisah kemanapun dia pergi atau siapa yang dia kunjungi. Norbert Wiener, pendiri sibernetika, menulis novel, Darwin sangat tertarik pada Shakespeare, Milton dan Shelley. Niels Bohr dihormati Goethe dan Shakespeare; Hegel melakukan studi mendalam tentang seni dunia dan ilmu pada zamannya. Pembentukan pandangan filosofis dan ilmiah Marx sangat dipengaruhi oleh sastra. Aeschylus, Shakespeare, Dante, Cervantes, Milton, Goethe, Balzac dan Heine adalah penulis favoritnya. Dia menanggapi dengan sensitif penampilan karya seni yang signifikan dan dia sendiri menulis puisi dan dongeng. Cahaya budaya yang luas bersinar dari karya jenius ini. Lenin tidak hanya berkenalan dengan seni tetapi juga menulis artikel khusus tentang itu. Karya-karya filosofis, sosiologis dan ekonominya dipenuhi dengan referensi sastra yang tepat. Dan dia sangat menyukai musik!

Pameran ”EXCURSION” sekaligus menandai lima tahun Jakarta Illustration Visual Art (JIVA)—art management yang diinisiasi oleh Ghanyleo. Pameran ini diagendakan akan dibuka secara resmi oleh Dr. Melani Setiawan pada 8 Januari 2020 lalu, pukul 19.00, dengan dimeriahkan penampilan oleh Anela Kaylea Bondjol dan Satriaji. Pameran juga dilengkapi dengan program publik berupa Gallery Tour yang akan dilaksanakan pada 16 Januari 2020, pukul 13.00.

Perjalanan hidup seperti garis-garis tanpa henti, jika diikuti maka garis itu tanpa ujung. Dibutuhkan motivasi dan kesadaran untuk membentuk garis perjalanan hidup tersebut. Seperti membentuk diri dalam garis hidup, akan dibutuhkan motivasi dalam mengarunginya. Perjalanan hidup ini disajikan melalui sebuah pameran seni rupa bertajuk ”EXCURSION” yang akan digelar pada 8–27 Januari 2020 di Gedung D Galeri Nasional Indonesia. Pameran ini diselenggarakan oleh Jakarta Illustration Visual Art (JIVA) bersama Galeri Nasional Indonesia.

Galeri Nasional, courtesy; galeri-nasional.or.id
courtesy; googlemaps

08 January 2020 to 27 January 2020

Excursion Visual Art Exhibition

6, Jl. Medan Merdeka Tim. No.14, RT.6/RW.1,

Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat,

Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10110, Indonesia

10:00:00 to 21:00:00

 

author; Fitrajaya Nusananta

d] sumber bibliografi;

  • https://www.marxists.org/reference/archive/spirkin/works/dialectical-materialism/ch01-s05.html
  • http://www.artsupply.com/Art_Tips/collaborative-art.html
  • https://www.britannica.com/topic/philosophy-of-art/The-interpretation-of-art
  • https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/galerinasional/pameran-excursion/
  • http://galeri-nasional.or.id/newss/866
Advertisement
Loading...