Untidled, karya Herisman Tojes, courtesy; http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/tojes

Pendapat beberapa peneliti bahwa dunia seni yang digeluti Herisman Tojes telah dikenal sejak kecil, proses berkesenian seorang Herisman Tojes dipengaruhi oleh konteks sosial, kemauan sendiri, dan masyarakat. Proses kerjanya dia lakukan dengan murni dan bertahap. Faktor penentu dalam pertumbuhan dan perkembangan proses kreatifitas seniman dalam berkarya adalah institusi sosial.

Decorative Surrealism Memukau Herisman Tojes 1
Kiri-kanan: Herisman Tojes, seorang alumnus SMSR yang sekarang mengajar di SMSR; cat warna-warni yang menghasilkan karya seni, courtesy; https://destinasian.co.id/repertoar-jilid-dua/2/

Sesudah menyelesaikan jenjang pendidikan Menengah Atas, Herisman
Tojes pun memutuskan untuk menekuni dunia seni rupa dengan melanjutkan
pendidikan ke perguruan tinggi di Jurusan Seni Rupa IKIP Padang. Disana dia
berjumpa dengan Asnam Rasyid yang pada waktu itu sedang kuliah Jurusan
Seni Rupa IKIP Padang, Asnam Rasyid banyak memotivasinya dengan berbagai bahasan menarik tentang dunia seni rupa sehingga membangkitkan semangatnya untuk mendalami dunia seni yang mana setelah itu melanjutkan pendidikan sarjana di Jurusan Seni Rupa IKIP Padang pada tahun 1980.

Decorative Surrealism Memukau Herisman Tojes 2
Untidled, karya Herisman Tojes, courtesy; https://indoartnow.com
Decorative Surrealism Memukau Herisman Tojes 3
Untidled, karya Herisman Tojes, courtesy; http://pentagona.blogspot.com/

Pada tahun 1986 disaat beliau telah menjadi staf pengajar di SMSR Padang barulah dia mulai berkarya diawali dengan mematung dan berpameran di Taman Budaya Sumatera Barat bersama bapak Arbi Samah, Nazar Ismail, Ardim, dan Jamaidi. Pada saat itulah dia mulai eksis berkarya hingga saat ini. Dan perjalanan karir melukis Herisman Tojes dilanjutkan dengan mendirikan kelompok seni Pentagona pada tahun 2003 bersama 4 orang seniman lainnya. Awalnya, komunitas ini hanya beranggotakanAmrianis, Dwi Agustyono, Herismen Tojes, Irwandi & Zirwen Hezy.Belakangan, diimbuhkan simbol + untuk menasbihkan masuknya Nasrul ke dalamkomunitas ini.Dilihat dari aliran seni, para perupa ini bisa dianggap tidak satu warna “suara.” Dengan gagasan bersama untuk memajukan seni rupa Sumatera Barat serta memotivasi seniman-seniman Sumatera Barat untuk aktif berkarya.

Termasuk yang memotivasi Herisman Tojes tertarik menjadi seorang seniman di bidang melukis adalah bagi dia melukis merupakan sebuah kegiatan yang berbentuk pekerjaan yang ia senangi, kalau pekerjaan dilakoni dalam
kesenangan, keseriusan dan dengan keyakinan maka lambat laun dalam rentang
waktu dan ruang makin lama akan terisi juga.

Decorative Surrealism Memukau Herisman Tojes 4
Harisman Tojes – 2008 – Merajut Waktu (140×197) Acrylic Paint on Canvas
Dokumentasi Edwin’s Gallery, courtesy; http://archive.ivaa-online.org
Decorative Surrealism Memukau Herisman Tojes 5
Herisman Tojes – 2008 – Demi Masa (140×197) Acrylic Paint on Canvas
Dokumentasi Edwin’s Gallery, courtesy; http://archive.ivaa-online.org

Sejak awal mula Herisman Tojes mengenal corak lukisan dekoratif adalah karena dia sangat menyenangi dan mengidolakan karya-karya dari pelukis Samikun. Menurut banyak arti dalam perjalanan kesenangannya dengan corak dekoratif menimbulkan kejenuhan dalam dirinya sehingga dia mulai mencari jati diri dalam
dunia lukis, hingga beliau menemukan corak seni surealisme adalah gaya yang
cocok digunakan.

Setelah itu diapun akhirnya mengagumi Lucia Hartini, yang biasa dia pelajari melihat dan mulai mencoba membuat karya seperti yang dibuat oleh Lucia Hartini namun bukan meniru secara keseluruhan, dia menggarap karyanya dengan acuan karya dari Lucia Hartini, hingga akhirnya kesenangan melukis dalam corak Surealismepun timbul dan lambat laun dia mulai beralih ke aliran seni lukis surealisme, namun tetap mempertahankan corak decorative yang masih terlihat pada karya-karyanya.

Pada proses pengerjaan karyanya, Herisman Tojes tanpa memikirkan tema,
namun memiliki ide dan gagasan serta konsep awal yang sudah dari awal terpikirkan sebelum dimulai ke atas kanvas.

Decorative Surrealism Memukau Herisman Tojes 6
BUMI GONJANG GANJING,Artist: Herisman Tojes,2018,145 x 145.Acrylic on Canvas, courtesy; https://indoartnow.com

Selanjutnya Herisman Tojes mengungkapkan bahwa sebelum dia melukis
tergantung pada situasi dan keadaan, dimulai dengan kata “menaklukan kanvas
kosong” dia menjelaskan bahwa sangat sulit memulai berkarya. Butuh waktu cukup lama bagi dia memulai menggoreskan kuas ke atas kanvas, karena bagi dia sangat berat untuk memulai awal garis atau coretan diatas kanvas yang masih putih.

Usaha menampilkan bentuk dasar sering dibantu dengan kontras gelap
terang yang menonjol. Juga kontras garis-garis antara yang stabil dan kaku
dengan kesan ritmis. Tahap awal Herisman Tojes dalam menciptakan karya lukis sama dengan seniman kebanyakan yaitu dimulai dengan menerapkan warna
backgroud ke atas kanvas menggunakan rol cat yang mana Herisman Tojes memblok background. Setelah ide didapatkan barulah beliau mulai menerapkan warna ke dua pada background yang telah beliau buat, biasanya menggunakan roll cat dan tak lupa juga menggunakan kuas.

Decorative Surrealism Memukau Herisman Tojes 7
IMAJI,Herisman Tojes,2017,250 x 180.Acrylic on Canvas, courtesy; https://indoartnow.com

Pada proses penerapan warna ke tiga pada background akan tampak sedikit bentuk yang sudah ada dalam pemikirannya.
Setelah background selesai, baru lah dia mulai berkarya dengan focus pada finishing. Dapat terlihat pada perjalanan berkaryanya dia sangat senang bereksperimen dengan banyak warna, efek-efek unik yang tercipta dari proses pencampuran warna, proses penerapan warna di atas kanvas hingga proses sapuan pisau palet, “goresan-goresan nakal” yang bagi dia adalah pembentukan goresan yang tidak menentu tercipta sejalan dengan keinginannya dan menimbulkan karakteristik serta keunikan pada karyanya.

Bulan lalu denagn mengambil thema “Soliloquy” Pameran Tunggal Herisman Tojes, di Taman Budaya Sumatera Barat diselenggarkan. Pada pameran tunggal pertama ini Herisman Tojes dimata Zirwen Hasri sebagai curator nya mengatakan “ sejak awal senantiasa bergumul pada ranah “Imagination content” dalam upaya membendakan kegelisahan. Abstraksi visual yang ditampilkan hanya perlambangan dan setiap curahan perasaan, firasat, konflik bathin yang paling dalam yang secara kasat mata tampak jelas dan dapat dirasakan antara pertautan bathin dengan elemen-elemen visual yang dihadirkan.

Decorative Surrealism Memukau Herisman Tojes 8
Untidled, karya Herisman Tojes, courtesy; http://pentagona.blogspot.com/

Muharyadi pengamat seni rupa dan kurator dalam tulisannya di katalogus pameran tunggal Herisman Tojes berjudul “Aransemen Garis dan Warna” , menyebutkan, kekuatan garis dan warna secara umum pada karya-karya Tojes secara konseptual memcerminkan tuturan subjektif yang dapat diterjemahkan melalui obyek, tema atau gagasan karya secara refresentatif. Yang muncul kemudian adalah harmoni garis dan warna menjadi kekuatan disebagian karya-karyanya.

Lihat sejumlah sketsa hitam putih sebagai kekuatan di luar lukisan dalam puluhan tahun terakhir, terlihat harmoni garis-garis yang direfresentasikan melalui bentuk “realis ekspresif” sebagai embrio karya-karya lukisnya. Sebagian sketsa-sketsanya merupakan cikal bakal karya-karyanya. Kekuatan sketsa-sektsanya terlihat melalui spontanitas garis, liukan garis-garis, garis melingkar, garis bergelombang membentuk wujud dan obyek sketsa, tulis Muharyadi.

Pada pameran ini sekaligus menandai selama 33 tahun persisnya saat Herisman Tojes mulai memasuki ranah pendidik di jurusan seni lukis di SMSR (SMKN 4 Padang) tahun 1986 bersama sejumlah teman-teman sebayanya di sekolah menengah kelompok seni budaya yang cuma ada tiga di Indonesia, diluar Yogyakarta dan Bali itu, ujar Herisman Tojes mengawali pembicaraan.

Tojes demikianpanggilan akrabnya kelahiran Batusangkar, 10 Oktober 1958 itu menyebutkan, kegiatan pameran tunggalnya ini merupakan pameran perdana sejak ia menggeluti dan eksis berkarya seni rupa. Sebelumnya ia kerap berpameran secara kolektif, baik di Sumatera Barat, Sumatera melalui even Pekan Budaya, Sumatera Biennale, temu perupa Sumatera dan lainnya maupun di sejumlah daerah di Indonesia seperti di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan beberapa daerah lain.

Tojes menambahkan bahwa, saya pameran tunggal perdana ini sekaligus merupakan kado istimewa selama 33 tahun berkarya dalam seni rupa, karena dalam beberapa dekade terakhir Taman Budaya Sumatera Barat tidak pernah menyelenggarakan pameran tunggal, ujar Herisman Tojes.

Decorative Surrealism Memukau Herisman Tojes 9
Di ruang Galeri Taman Budaya Sumbar, pelukis Herisman Tojes bersama pengunjung, Senin (9/9/2019) malam, courtesy; http://www.sumbarsatu.com/berita/21538-lagu-misty-antarkan-pembukaan-pameran-lukis-herisman-tojes

Sebanyak 25 karya lukis dan sketsa yang dihasilkannya tiga tahun terakhir di pajang dengan balutan tema “Soliloquy” yang diresmikan pembukaannya malam ini, Senin 9 September 2019.

Nama perupa Herisman Tojes bukan nama baru dalam seni rupa Indonesia. Pengalaman berpameran sejak tahun 1980-an di berbagai kota di Indonesia telah meninggalkan jejak-jejak sejarah kreatifnya yang diikuti dengan ganjaran beragam penghargaan yang diterimanya.

Pameran tunggal seni rupa bagi Herisman Tojes ini merupakan capaian kreatifnya sepanjang perjalanan karier sebagai seniman perupa. Pria kelahiran Batusangkar, 10 Oktober 1958 merupakan alumnus Jurusan Seni Rupa IKIP Padang (kini UNP), sudah melukis sejak tahun 1980, dan sejak 1986 staf pengajar di SMSR [kini SMKN]

Pameran tunggal Herisman Tojes kali ini dikurasi Iswandi Bagindo Parpatiah dan Zirwen Hazry merupakan salah satu dari sekian program Taman Budaya Sumatera Barat tahun 2019.

Menurut Iswandi Bagindo Parpatiah, sosok Herisman Tojes menorehkan catatan khusus dalam perjalanan sejarah seni rupa Tanah Air, dan tentu saja Sumatera Barat..

“Dalam catatan sejarah seni rupa Indonesia, Herisman Tojes merupakan generasi ketiga dalam tataran sejarah seni rupa modern yang sudah dimulai sejak tahun 1856 di Kweek School Bukittinggi. Wakidi dan Mohammad Sjafei dianggap sebagai pelopor gerakan modernitas seni rupa sebagai generasi pertama. Kedua sosok tersebut sangat berpengaruh dalam perkembangan seni lukis modern di Indonesia, terutama Sumatra Barat dengan banyak murid dan pengikutnya,” kata Iswandi dalam bincang-bincang dengan sumbarsatu, Minggu (8/9/2019) di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat.

Decorative Surrealism Memukau Herisman Tojes 10
Seniman PENTAGONA+, courtesy; http://pentagona.blogspot.com/

Sejarah seni rupa Symatera Barat dari awalnya bias kita simak disini yang dimulai dari angkatan 1900-an seperti Wakidi, 1950 hingga 1960-an seperti Ipe Mak”ruf, Hasan Basri Dt. Tumbijo, Itji Tarmizi, Amir Syarif, Arby Samah. Sementara angkatan 1970-1980-an muncul sejumlah nama diantaranya yang paling diawal dikenal adalah seorang pelukis dari alumni ASRI Jogyakarta yang mana aktifitas berkeseniannya lebih banyak di Sanggar Bumi Tarung bersama Amrus Natalsya Djoko Pekik, Misbach Tamrin, Isa Hasanda, Adrianus Gumelar, Hardjija Pudjanadi, Sudiyono SP, Sabri Jamal, Dj. M. Gultom, Muryono, dan Sudjatmoko ditingkat nasional. Dan setelah itu kita bisa lihat Armansyah Nizar, Nazar Ismail, Yose Rizal, Idran Wakidi, Am. Y. Dt. Garang, Fauzi, Syaiful Adnan dan banyak lagi.

Setelah muncul periode yang tidak terbendung jumlahnya dalam kurun waktu 1980-an keatas sampai sekarang seperti Firman Ismail, Zulhelman, Zulkifli Mukhtar, Herisman Tojes, Ardim, Harnimal, Mirza Adrianus, Metrizal, Dwi Augustioyono, Amrianis, Zirwen Hazry, Yasrul Sami, Yulianto, Budiman, Febri Antoni, Marwan serta puluhan anak-anak muda yang tergabung dalam berbagai komunitas dan kelompok seni yang sangat produktif berkarya.

Tapi dalam meneliti wilayah pergulatan intensitas berkarya dan kreativitas seniman melalui karya-karya yang kini dilengkapi dalam gagasan-gagasan baru di wilayah ranah estetis setidaknya sedikit dapat membantu saya memperoleh informasi dalam rentang waktu perjalanan yang linier yang dapat dilacak dan ditelusuri dan sedikit dibantu sejumlah literatur dan referensi perjalanan seniman yang kita bicarakan selama ini melalui kataloguis pameran, kliping surat kabar dan majalah dan sumber-sumber lainnya.

 

author; Fitrajaya Nusananta

 

D) Sumber bibliografi:

  • https://destinasian.co.id/repertoar-jilid-dua/2/
  • https://indoartnow.com
  • http://archive.ivaa-online.org
  • http://www.sumbarsatu.com/berita/21538-lagu-misty-antarkan-pembukaan-pameran-lukis-herisman-tojes
  • http://pentagona.blogspot.com/
  • http://www.sumbarsatu.com/berita/21523-malam-ini-pembukaan-pameran-tunggal-herisman-tojes-soliloquy-seorang-perupa
  • https://www.portalberitaeditor.com/herisman-tojes-akan-pameran-tunggal-di-taman-budaya-sumbar/
  • https://www.semangatnews.com/soliloquy-pameran-tunggal-herisman-tojes-memikat/
  • http://visualheritageblognasbahry.blogspot.com/2018/11/sebuah-catatan-perjalanan-sanggar-bumi.html
  • http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/tojes
  • http://smk4-padang.sch.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=6&artid=5
  • http://ejournal.unp.ac.id/