Suku Dani, Baliem Valley, courtesy; https://adira.co.id

Papua memiliki beraneka ragam suku di Irian Jaya, dan dengan keunikan adat yang begitu istimewa, bahasa, terutama pakaian adat mereka. Pakaian adat Irian Jaya, suku Asmat adalah koteka yang biasa dipakai oleh pria yang tinggal di sekitar daerah wamena.Koteka pakaian yang berasal dari Mee. Suku Dani yang tinggal di Lembah Baliem, Wamena, Jayawijaya menyebut pakaian lelaki tradisional dengan nama Horim atau holim. Masing-masing suku asli dataran tinggi tengah memiliki nama mereka sendiri.

KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 3
Suku Dani dengan Koteka, Baliem Valley, courtesy; https://www.flickr.com
KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 4
“KOTEKA” MAN SEX UNDERWEAR FROM PAPUA, courtesy; http://sabangmarauk.blogspot.com
KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 5
Four Ekari men from Enarotali, courtesy; https://ozoutback.com.au
KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 6
Suku Dani, Baliem Valley, courtesy; https://lucianadifloriano.com
KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 7
Suku Dani, Baliem Valley, courtesy; https://lucianadifloriano.com

Koteka dibuat dari tanaman yang buahnya agak mirip dengan mentimun atau tanaman mentimun. Namun buah koteka agak panjang. Buah tersebut yaitu kulit labu mini Bangkali agak besar (Lagenaria siceraria), yang mana setelah labu tersebut  menua akan lebihlebih keras.

KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 8
Suku Dani dengan Koteka, courtesy; Suku Dani, Baliem Valley, courtesy; https://lucianadifloriano.com
KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 9
Seorang bapak tua dengan Koteka, Suku Dani, Baliem Valley, courtesy; Suku Dani, Baliem Valley, courtesy; https://lucianadifloriano.com
KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 10
Seorang lelaki Yali di Minimo, mengenakan lingkaran rotan di pinggangnya dan “holim” atau “koteka”, sarung penis. Suku Yali hidup di sebelah timur dan selatan Lembah Baliem.https://ozoutback.com.au
KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 11
Dua lelaki Dani, dihiasi dengan minyak oker dan babi, hiasan kepala dari bulu dan mengenakan “holim” atau “koteka”, labu penis, di jalan di kota Wamena, courtesy; https://ozoutback.com.au
KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 12
Seorang lelaki Ekari, membawa busur dan anak panahnya yang besar, antara Madi dan Wibutu, hampir 8 kilometer di sebelah timur Enarotali. Foto oleh Ludo Kuipers, Kamis 12 April 1979, courtesy; https://ozoutback.com.au/
KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 13
Seorang anak laki-laki dan seorang pemuda dari Enarotali, courtesy; https://ozoutback.com.au
KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 14
Potret duo pria Dani dengan koteka tradisional, Kurima, Papua, courtesy; https://www.flickr.com/

Masyarakat menyebutnya bobbe Mee. Bobbe biasanya ditanam di kebun atau di halaman. Proses pembuatannya, bobbe  (biasanya orang tua) dimasukkan ke dalam pasir lunak. Di atas pasir halus dibuat perapian. Setelah panas kulitnya lembut dan akan meleleh, maka biji-bijiannya akan keluar dari segmen bobbe. Setelah itu, bobbe digantung (dikeringkan) di atas perapian hingga kering. Setelah pengeringan di tambah dengan ukiran khusus lalu siap digunakan sebagai koteka.

KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 15
Laki-laki Dani dari Minimo, tradisional dan modern, courtesy; https://ozoutback.com.au
KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 16
Seorang ayah mencari kutu putranya, courtesy; https://ozoutback.com.au
KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 17
Perempuan Dani di Wakatu; di latar belakang Wamena, courtesy; https://ozoutback.com.au/
KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 18
Seorang ayah menggendong anaknya, berjalan kembali ke desanya, courtesy; https://ozoutback.com.au
KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 19
Seorang wanita tua, membawa beban yang berat dengan tas tali “noken”, courtesy; https://ozoutback.com.au/

Mengenai ukuran dan bentuk koteka tidak ada hubungannya dengan status pemakainya. Ukuran biasanya terkait dengan aktivitas pengguna, untuk bekerja atau upacara. Banyak suku di sana dapat dikenali dari cara mereka menggunakan koteka. Koteka pendek digunakan di tempat kerja, dan panjang dengan dekorasi digunakan dalam upacara. Menggunakannya dengan menutupi organ reproduksi laki-laki. Cara penggunaan dengan diikat dengan tali di pinggangnya. Jadi tidak ada alat penutup untuk tubuh. Mungkin karena suku ini banyak berkulit hitam. Dikarenakan iklimnya sangat panas sehingga tidak ada yang jadi pakaian adat yang sederhana.

Pakaian untuk wanita hampir sama dengan halnya laki-laki, mereka hanya menutupi reproduksinya. Mereka berpakaian seperti rok akar tanaman kering dalam benang rajut seperti benang kasar yang dibuat sebagai bawahan atau rok yang menutupi tubuh mereka.

Perempuan mengenakan rok pendek pinggul yang terbuat dari rumput atau serat kulit kayu; ketika di luar rumah mereka menutupi punggung mereka, dari kepala ke paha, dengan jarring yang juga terbuat dari rumput dan mereka menggunakannya sebagai tas untuk menggendong bayi atau untuk menaruh sayuran.

KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 20
Suku Dani, Baliem Valley, courtesy; https://adira.co.id

Selubung penis disebut koteka secara lokal dan tidak ada hubungannya dengan seks seperti yang mungkin diasumsikan oleh banyak orang tetapi sebaliknya hanya melindungi pria dari gigitan serangga yang menjengkelkan di hutan lebat Papua.

KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 21
Tari perang Suku Dani, courtesy; https://adira.co.id

Pada tahun 1960-an mulai banyak yang belajar banyak tentang tradisi tersebut, seorang antropolog Inggris Karl Heider menghabiskan lebih dari dua tahun untuk mempelajarinya. Dia mencatat bahwa koteka tidak hanya untuk perlindungan, tetapi juga dimaksudkan ke dalam bahasa mereka. Suara kuku yang keras jika mereka menjentikkan kelabu tersebut dimaksudkan sebagai penyampaian pesan pesan, mulai dari rasa takut hingga kegembiraan.

KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 22
Tari perang Suku Dani, courtesy; https://adira.co.id

Percaya atau tidak, beberapa anggota suku bahkan menggunakan ruang kosong di sarung penis mereka untuk menyimpan uang atau tembakau. Meskipun kondisi dimana mereka berada dingin dan bahkan salju, banyak suku Dani selalu memakai koteka mereka, memberi mereka ruang saku kecil.

KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 23
Suku Dani, Baliem Valley, courtesy; https://adira.co.id

Pada tahun 1971, pemerintah Indonesia mencoba mendorong suku tersebut untuk mengenakan pakaian modern pada “Operasi Koteka” atau “Operasi Penis Labu” nya. Tetapi suku pria dan wanita tidak terbiasa dengan pakaian modern. Mereka mendapatkan penyakit kulit karena pakaian yang tidak dicuci saat mereka tidak memiliki pakaian cadangan dan sabun untuk mencucinya. Para pria juga terlihat mengenakan celana pendek sebagai topi, sementara wanita menggunakan gaun sebagai tas.

KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 24
Peta Papua, courtesy; worldteampapua.org

Author: Rastanti Valley Rose

KOTEKA - Menjelajahi Selubung Penis di Papua 25

Referensi:

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Koteka
  • https://historycollection.co/embellishment-and-mutilation-were-part-of-the-10-most-bizarre-fashion-trends-in-history/5/
  • http://iveecharismanta.blogspot.com/2012/03/koteka-and-sali.html
  • https://www.wowshack.com/the-11-things-that-have-changed-the-dani-tribe-of-papua/
  • https://ozoutback.com.au/West-Papua/people/slides/1979040721.html
  • https://adira.co.id/sahabatlokal/festival-lembah-baliem
  • https://lucianadifloriano.com/2011/01/22/exploring-indonesia-my-expedition-to-irian-jaya/