" Ia Ada dengan Ketiadaannya" 2003, courtesy; http://studiopatungamrizalsalayan.blogspot.com

Amrizal Salayan kelahiran Bukittinggi, 8 Oktober 1958 itu, mengikuti jejak seniman-seniman asal Sumatra Barat yang cenderung relijius (AA Navis, Hamka, Taufik Ismail, misalnya), sehingga patung-patungnya menegaskan sikap seorang muslim dalam menyikapi takdir, yaitu suratan yang imanen.

Metamorfosis Karya Amrizal Salayan 1
“Bundo Kanduang” 2007, courtesy; http://studiopatungamrizalsalayan.blogspot.com/

Pengungkapan ide tersebut dapat dilihat misalnya lewat seri patung yang menggambarkan daun pisang, yang diberinya tajuk Siklus Kehidupan, Siklus Kematian (2005, dimension variable), Zuhudnya Sangkuriang (2007, dimension variable), Manusia Daun Pisang (2004, dimension variable), Bundo Kanduang (2004, dimension variable).

Metamorfosis Karya Amrizal Salayan 2
Seri KEFANAAN : ” HAMBA I ” [2005],courtesy;http://studiopatungamrizalsalayan.blogspot.com
Pada patung “Manusia Daun Pisang” ini, digambarkan Amrizal  tidak begitu jelas. Sosok manusia hanya terlihat dari struktur tubuhnya yang sedang berdiri, struktur wajahnya muncul samar dari bungkusan daun pisang.

Terlihat dari sobekan-sobekan daun pisangnya, kita tidak melihat manusia secara utuh, patung itu dibiarkan mempunyai ruang kosong begitu saja. Manusia utuhnya (flesh and blood) tidak ada; gelap dan ringan.

Metamorfosis Karya Amrizal Salayan 3
“Manusia Daun Pisang” (2004), courtesy; http://studiopatungamrizalsalayan.blogspot.com

Kalau dilihat dan dibandingkan dengan sebuah mumi, seandainya mumi dibuka helaian kain-kainnya maka kita akan melihat tubuh utuh mumi tersebut. Dalam “Manusia Daun Pisang” tubuh utuh itu kosong, yang tampak hanya suatu bayangan yang terlihat dari lekukan-lekukan daun pisang yang membentuk sosok tubuh manusia.

Pada dua sosok manusia itu semakin samar dengan warna daun pisang yang sudah kering. Warna coklat tua dengan goresan-goresan kasar begitu dominan, menambah kesan mistis dan simbolik keberadaannya. Patung yang ditampilkan tersebut sepadan dengan pengertian tema ‘bayang’ yang diusung dalam pameran ini.

Metamorfosis Karya Amrizal Salayan 4
Segulung Daun Menengadah Ke Langit edisi ke 2 /5 ), courtesy; http://studiopatungamrizalsalayan.blogspot.com

Seperti halnya yang ditulis kuratorialnya, Rizki A. Zaelani mencatat pengertian ‘bayang’, ‘bayangan’, atau ‘bayang-bayang’ ini sebagaimana yang diterangkan dalam kamus [KBBI], yaitu sebagai ruang yang tidak kena sinar [cahaya] karena terlindung [sesuatu] benda; wujud hitam yang nampak di balik benda yang kena sinar; atau  rupa (wujud) yang kurang jelas di gelap. Pengertian atau makna ‘bayang yang lain lebih lanjut dicatat, yaitu sebagai gambar pada cermin, air, dsb; juga berarti sebagai:  gambar dalam pikiran, angan-angan, khayal; atau  sesuatu yang seakan-akan ada, tetapi sebenarnya tidak ada; serta berarti sebagai  sesuatu yang sudah siap bekerja bilamana diperlukan.

Oleh karena itu ‘bayang’ tak hanya merujuk pada pengertiannya sebagai obyek pada keadaan dirinya sendiri, tetapi juga sebagai keterangan yang menjelaskan berbagai keadaan dari persoalan lain. Namun jika berbicara hal yang lain, sosok manusia daun pisang ini, seperti sedang menceritakan sosok dirinya yang lain bukan hanya sekedar ‘bayang’ yang secara visual tidak  realis.

Metamorfosis Karya Amrizal Salayan 5
“zuhud sangkuriang” 2007, courtesy; http://studiopatungamrizalsalayan.blogspot.com

Pada karya bertajuk Ia Ada dengan Ketiadaannya (2004, dimension variable), Amrizal Salayan mengingatkan saya pada Qalam Illahi dalam Surat Besi, yang bunyi: Huwal awallu wal akhiru, wazzahiru wal batinnu (Dialah yang awal dan yang akhir, yang nampak, dan yang tidak nampak).

Metamorfosis sembilan lelaki sedang i’tidal, dapat dilihat pada karya Amrizal Salayan yang bersikap sidakep dalam rakaat solat untuk membacakan surat al-Fatihah. Dari kanan, ujud lelaki itu jelas dan tegas, kemudian makin ke kiri makin menghablur, hingga tinggal kepompong melompong.

Metamorfosis Karya Amrizal Salayan 6
Amrizal Salayan, courtesy; https://salihara.org

Lahir di Bukittinggi Sumatera Barat, Drs. Amrizal Salayan St. Parpatiah, M.Sn. 8 Oktober 1958; adalah seorang seniman Indonesia yang berprofesi sebagai pematung.

Jurusan seni rupa IKIP Padang, Sumatra Barat, dari tahun 1979 sampai 1980. Setelah itu, ia melanjutkan ke Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) dari tahun 1984 dan mendapatkan gelar BFA pada tahun 1988. Gelar Master ia raih pada tahun 2004 juga dari ITB.

Januari 2013, Amrizal Salayan maju sebagai calon ketua umum Asosiasi Pematung Indonesia (API) periode 2013-2017. Namun ia tidak berhasil dan hanya mendapatkan 17 suara dalam pemilihan yang berlangsung pada Musyawarah Besar III API yang diikuti oleh sekitar 60-an orang di antara 152 anggota dari berbagai kota, seperti Jogja (80 anggota), Jakarta (26), Bandung , Padang dan Bali.

Metamorfosis Karya Amrizal Salayan 7
Patung Jenderal Soedirman di jln jenderal soedirman Jakarta
Kolaborasi dengan pematung Senior Soenaryo
di kawasan Dukuh Atas, Jakarta, courtesy; https://www.tribunnews.com

Penghargaan

Nominasi sebagai Kerja Terbaik: “Komposisi Vertikal – Horizontal, Trienal Jakarta II 1998 (1998)

Pameran Seni Rupa Kontemporer Indonesia, Trienal Jakarta II 1998, 27 Februari–10 Maret, dari Dewan Kesenian Jakarta (1998)

 

author; Fitrajaya Nusananta

 

D) Sumber bibliografi:

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Amrizal_Salayan
  • http://studiopatungamrizalsalayan.blogspot.com/
  • http://gugahjanari.blogspot.com/2007/07/tiga-perupa-menguak-takdir.html
  • https://indoartnow.com/artists/amrizal-salayan
  • https://www.itb.ac.id/news/read/4486/home/dosen-fsrd-itb-pamerkan-karya-seni
  • https://salihara.org
  • https://www.tribunnews.com