Patung Mbis, Wujud Transformator Roh Leluhur Suku Asmat

707
Acara adat suku Asmat, courtesy; Foto: cherry-alisa.blogspot.com

Kita tidak asing lagi dengan suku Asmat, suku ini adalah salah satu suku yang berada dipedalaman selatan Papua. Tapi, apakah kita mengetahui secara lengkap tentang suku ini?

Suku Asmat berkulit hitam dan berambut keriting. Tubuhnya cukup tinggi. Rata-rata tinggi badan orang Asmat wanita sekitar 162cm dan tinggi badan laki-laki mencapai 172cm.

Alam adalah bagian dari orang – orang suku Asmat. Karena itulah mereka sangat menghormati dan menjaga alam sekitarnya bahkan, pohon disekitar tempat hidup mereka dianggap menjadi gambaran dirinya. Batang pohon menggambarkan tangan. Buah menggambarkan kepala. Akar menggambarkan kaki.

Advertisement

Keseharian orang – orang  Asmat bekerja dilingkungan sekitarnya. Terutama untuk mencari makan. Anak-anak harus membantu orangtuanya. Mereka mencari umbi, udang, kerang, kepiting, dan belalang untuk dimakan. Sementara itu para bapak menebang pohon sagu serta berburu binatang dihutan.Bahan makanan yang sudah terkumpul dimasak oleh para ibu. Selain punya tugas memasak, para ibu juga mempunyai tugas menjaring ikan di rawa-rawa.

Suku Asmat memilki masakan yang tidak seperti masakan kita. Masakan istimewa bagi mereka adalah ulat sagu. Namun sehari-harinya mereka hanya memanggang ikan atau daging binatang hasil buruan.

Sate ulat sagu, source; blog.elevenia.co.id

Suku Asmat dikenal memiliki kemampuan dan sifat artistik dari kayu ukiran menjadi karya seni yang menarik secara langsung tanpa menggambar sketsa terlebih dahulu. Bagi Asmat, ukiran kayu mereka terkait erat dengan dunia roh, dan karenanya, pada dasarnya tidak dianggap sebagai objek estetika. Sebagian besar seni Asmat yang sangat orisinal adalah simbol peperangan, pengayauan, dan pemujaan leluhur-pejuang. Selama berabad-abad orang Asmat, sibuk dengan kebutuhan untuk menenangkan arwah leluhur, menghasilkan banyak perisai, kano, figur pahatan, dan drum yang dirancang dengan luar biasa.

Mengukir patus mbis, courtesy; christyanas.blogspot.com

Terlihat seni ukir Asmat lahir dari upacara keagamaan. Ukiran suku Asmat yang bersifat naturalis memiliki beragam motif, mulai dari patung manusia, panel, perisai perahu, tifa, telur kasuari sampai ukuran tiang. “Hasil dialog dengan arwah nenek moyang” tersebut dijadikan sebagai pola ukiran mereka, seperti perahu, pohon, binatang dan orang berperahu, orang berburu dan lain-lain. Bagi yang ingin mengoleksi patung asli, maka mau tidak mau harus siap menembus pedalaman hutan belantara Papua.

Patung Mbis, courtesy; www.indonesia.travel

Asmat memiliki seni ukir yang merupakan ritual religiusitas mereka terhadap arwah nenek moyang yang disimbolkan dalam bentuk patung serta ukiran kayu. Seni ukir sejati para pemahat Asmat ini telah banyak dikenal dunia, tidak kurang Metropolitan Museum of Art New York salah satu museum besar dunia juga memiliki artefak patung Asmat.Seni ukir asli suku pedalaman Papua ini telah dikenal dunia sejak tahun 1700-an.

Patung Mbis, courtesy; www.infobudaya.net

Hasil survey akhir-akhir ini, jumlah mereka 70 ribu orang. Masyarakat Asmat terdiri dari 12 sub-etnis, dan masing-masing memiliki ciri khas pada karya seninya. Setiap suku memiliki keunggulan tersendiri. Ada yang menonjol pada ukiran salawaku atau perisai, ada pula yang memiliki ukiran untuk hiasan kano dan ada yang unggul pada ukiran tiang kayu. Untuk segi pola maupun skala pun memiliki perbedaan satu sama lainnya.

Patung mbis, courtesy; www.mlancong.com

Media Komunikasi kepada Nenek Moyang

Karya ukiran Asmat dipercaya sebagai mediator yang menghubungkan antara kehidupan masyarakat dengan leluhur mereka. Melalui ukiran inilah orang Asmat berkomunikasi dengan arwah keluarganya yang sudah meninggal. Setiap ukiran yang mereka buat mewakili seseorang yang telah meninggal dunia.

Asmat dengan seni ukirnya yang paling spektakuler adalah tiang atau tugu leluhur yang disebut Bisj. Ukiran ini umumnya tersusun dari lebih dua figur. Setiap figur diukir di atas figur yang lain. Masing-masing figur menggambarkan keluarga yang telah meninggal. Dahulu, Bisj dibuat dalam upacara tradisional yang dimeriahkan dengan pesta pemenggalan kepala dan kanibalisme (head hunting) agar arwah leluhur tenang. Setelah wilayah Papua menjadi bagian RI tahun 1963, pemerintah melarang pembuatan Bisj untuk mencegah upacara head-hunting dan kanibalisme. Lambat laun tradisi Bisj mulai memudar. Kini orang Asmat membuat patung untuk dijual pada wisatawan. Penjualan seni ukir Asmat memberikan kontribusi ekonomi bagi warga Asmat.

Untuk suku Asmat mengukir memiliki peran penting dalam keseharian hidup masyarakat Asmat, di setiap kampung dapat dijumpai warga Asmat yang melakukan kegiatan ini secara berkelompok. Biasanya mereka melakukan kegiatan ini di Jeu, rumah tradisional Asmat.

Mengukir dan “Dialog”

Pada patung dan ukiran Asmat dibuat ternyata tidak menggunakan sketsa terlebih dahulu. Mengukir patung, bagi suku Asmat layaknya sedang berdialog dengan arwah leluhur di alam lain. Bagi para penganalisis, ini diduga terkait adanya tiga macam konsep dunia pada masyarakat Asmat yakni: Asmat on Capinmi (kehidupan sekarang), Dampu on Capinmi (alam persinggahan roh), dan Sarfar (surga).

Patung MBis memiliki ritual yang khas sebagai patung tonggak leluhur yang menjadi semacam identitas budaya masyarakat Asmat yang utama. Roh para leluhur ditransformasikan dalam wujud patung MBis. Setiap patung yang mereka hasilkan diyakini akan dititisi oleh roh para leluhur sebagai penguasa kehidupan mereka. Oleh karena itu, roh para leluhur  sangat dihormati dan dipuja dalam wujud patung MBis lewat rangkaian upacara ritual panjang yang dianggap sakral.

Pada patung Mbis dibuat sebagai perlambang adanya sosok nenek moyang dalam kehidupan sehari-hari Suku Asmat. Masyarakat Suku Asmat percaya bahwa orang yang sudah meninggal mampu ditemukan kembali di dalam bentuk Patung Mbis. Karenanya, setiap Patung Mbis yang dibuat, diberi nama sesuai dengan nama orang yang telah meninggal. Namun, tidak semua orang yang sudah meninggal dibuatkan Patung Mbis. Hanya orang tertentu yang dibuatkan Patung Mbis.

Proses pembuatan patung yang terbuat dari kayu bakau ini melewati proses yang panjang. Awalnya, kaum pria Suku Asmat berkumpul. Sambil berteriak dan merubuhkan pohon bakau. Setelah rubuh, batang pohon bakau dibersihkan dari ranting-ranting dan kulitnya dikupas. Batang pohon bakau lalu dilumuri cairan berwarna merah – yang bahannya juga dari pohon bakau. Selesai dilumuri cairan merah, batang pohon bakau dibawa ke desa.

Sejak dahulu, masyarakat Suku Asmat percaya bahwa batang pohon bakau merupakan perwujudan tubuh nenek moyang. Sementara, cairan merah yang dioleskan ke batang pohon bakau merupakan darahnya.

Sebagai bagian dalam rombongan penebangan pohon bakau merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi laki-laki dewasa Suku Asmat. Ketika sampai di desa, masyarakat akan menyambut rombongan penebang pohon ini layaknya sebagai pahlawan yang kembali dari medan perang.

Desain Pakaian adat Suku Asmat biasanya terinspirasi dari alam,courtesy; 8apkmclassx.wordpress.com

Yang mana batang pohon bakau tersebut kemudian diberikan kepada Wow Ipits. Wow Ipits merupakan sebutan bagi orang-orang yang memiliki keahlian dalam membuat ukiran patung. Biasanya, pengerjaan sebuah Patung Mbis dapat diselesaikan dalam waktu satu hari. Setelah jadi, Patung Mbis dipajang di depan rumah sebagai simbol adanya komunikasi antara dunia kematian dan dunia kehidupan.

Aksesori kalung dan gelang dibuat dari kulit kerang, gigi anjing, dan bulu burung cendrawasih-courtesy; 8apkmclassx.wordpress.com

Dalam pembuatan patung mbis di rumah panjang, hanya wow-ipits yang boleh berada di dalamnya berhari-hari hingga biasanya 2 bulan. Selama pembuatan patung tersebut, wow-ipits akan dilayani oleh perempuan yang secara bergantian mengantarkan kebutuhan wow-ipits mulai dari kebutuhan makan hingga kebutuhan sex.

Dahulu kala, orang Asmat masih melakukan praktik pengayauan, dan kanibalisme. Musuh yang telah dipenggal, dagingnya akan dibagikan dan dimakan bersama. Tetapi praktik tersebut kini telah dilarang pemerintah melalui surat edaran resmi. Meskipun begitu, jika terjadi konflik, sampai kini masih sering kita temui peristiwa pengayauan tersebut.

Selama pembuatan patung mbis, biasanya juga dilakukan ritual “perang-perangan” dan saling tukar pasangan (istri). “Perang-perangan” ini yang oleh sebagai konsep budaya paradoks, di mana prinsip “kematian adalah kehidupan” tercermin salah satunya dalam upacara-upacara yang dilakukan oleh budaya “primitif”. “Perang-perangan” tersebut disimbolkan dengan pria-wanita menari di rumah panjang, kemudian saling tukar istri melakukan hubungan seksual, membuat kelahiran baru.

Salah satu mata pencaharian suku asmat adalah berburu, beberapa binatang yang sering jadi objek perburuan mereka antara lain ialah babi hutan, burung, ular, komodo, dan binatang lain di hutan-courtesy; penghubung.papua.go.id

Patung mbis dibuat secara bersusun mulai dari akar pohon di atas sampai ujung pohon di bawah. Pada posisi atas atau akar, adalah patung nenek moyangnya, kemudian di bawahnya adalah keturunannya (anaknya), hingga di pangkalnya adalah yang paling muda yang baru meninggal (cucunya). Di setiap patungnya diberi nama orang yang meninggal tersebut. Pada bagian teratas yaitu patung nenek moyangnya, dibuat ukiran tambahan yaitu penis yang distilasi. Hal ini terkait kepercayaan Suku Asmat bahwa akar keturunan mereka berasal dari nenek moyangnya. Posisi tiap sosok dalam susunan patung mbis ini seperti orang setengah berjongkok, hal tersebut dapat kita jumpai juga dalam beberapa suku di Papua yang melakukan praktik mumi.

Suku Asmat pada acara adat, courtesy-indonesia-tourism.com

Setelah pembuatan patung selesai, diadakan arak-arakan keliling kampung yang dipimpin oleh ketua kampung tersebut. Setelah sampai di rumah panjang, patung biasanya diberi warna hitam, putih, dan merah. Warna dasarnya adalah putih, sebagai lambang kesucian. Kedekatan terkait warna putih dan suci ini bisa kita lacak asal katanya di bahasa sanskrit, zuci dalam bahasa sanskrit berarti putih dan murni. Selain itu putih ini menyiratkan kesan bersih, karena hanya warna putihlah yang paling kuat menampakkan noda jika terkena noda/ kotoran, sehingga bisa diartikan yang putih berarti yang bersih, yang bersih berarti juga yang murni (belum “terkontaminasi”), yang murni ini berarti yang suci. Warna hitam adalah lambang bumi. Warna merah melambangkan manusia, hal ini terkait dengan darah. Dahulu konon jika meninggalnya karena perang, maka keluarga korban akan membalas membunuh satu keluarga si pembunuh, dan darahnya dioleskan ke patung mbis tersebut. Karena perkembangan budaya, hal itu tidak dilakukan lagi, dan pewarnaannya kini menggunakan pewarna alami.

Upacara perang sampan orang Asmat. Pemburu kepala suku Asmat-courtesy; www.123rf.com

Dan patung-patung yang telah ditempatkan kembali di rumah panjang ini, kemudian dilakukan upacara penutup, yaitu sang ketua adat akan mengucapkan nama-nama yang diberikan pada patung tersebut sesuai nama yang meninggal, kemudian memekikkan beberapa kalimat yang berisi doa dan ungkapan-ungkapan (pengakuan) tentang telah membunuh pria, wanita, dll. dan mereka telah membuat pengakuan. Terakhir sang ketua adat akan memekikkan untuk menyerahkan roh si mati untuk menuju alam yang luhur. Sore hari, patung mbis akan disimpan di rumah panjang. Seringkali juga patung mbis tersebut didirikan di sebuah pohon sagu tua hingga rusak dengan sendirinya.

Patung mbis ini, barangkali bisa digolongkan juga sebagai folklor, sebab visual patungnya sendiri sebenarnya adalah sebuah pengingat akan mitos-mitos, peristiwa, dan narasi lisan yang dipercaya dan diwariskan secara turun temurun. Mitos-mitos terutama terkait bagaimana asal-usul suku mereka berasal, dan bagaimana hubungan keluarga dalam satu garis keturunan berhubungan hingga mereka ke alam baka.

author; Fitrajaya Nusananta

D) Sumber bibliografi:

  • https://www.indonesia.travel/gb/en/event-festivals/asmat-cultural-festival-2018-discover-the-legendary-carvings-of-the-asmat
  • http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/produk/1429
  • http://www.infobudaya.net/2019/01/patung-mbis-penghubung-kehidupan-dan-kematian/
  • http://christyanas.blogspot.com/2016/05/patung-mbis-pada-suku-asmat-dalam.html
  • https://8apkmclassx.wordpress.com/tag/sukuasmat-makanantradisionalasmat-tariantradisionalasmat-pakaianadatasmat-senjatatradisionalasmat-senjatatradisionalasmat/
  • https://penghubung.papua.go.id/5-wilayah-adat/anim-ha/kabupaten-asmat/
  • https://www.123rf.com/photo_68468845_indonesia-irian-jaya-asmat-province-jow-village-june-23-canoe-war-ceremony-of-asmat-people-headhunte.html
  • https://indonesia-tourism.com/blog/the-manificent-asmat-people/

 

Advertisement
Loading...